Kamis, 26 Mei 2022 (Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga) (Stola Merah)
Bacaan Alkitab : Lukas 24:44-53
Tujuan : Gereja dipanggil untuk menjadi saksi Kristus
Tugas dan tanggungjawab utama seorang yang berperan sebagai utusan yakni: Memahami dengan baik apa isi tugas yang diembannya, lalu menyampaikan atau mengerjakan tugas itu sesuai keinginan sang pengutus. Pengutus bisa seorang kepala negara, pimpinan suatu organisasi, seorang teman atau siapa saja yang memiliki suatu kepentingan menyampaikan suatu pesan atau pekerjaan yang harus disampaikan/dikerjakan oleh seorang utusan. Allah pun berperan sebagai Pengutus. Untuk Tugas apakah Allah mengutus gerejaNya? Hal tersebutlah yang akan kita cari tahu melalui perenungan kita hari ini.
Bacaan Alkitab hari ini berisi percakapan Tuhan Yesus dengan murid-muridNya saat Ia telah bangkit dari kematian, dilanjutkan dengan kenaikanNya ke Sorga yang kita peringati hari ini.
Mari kita simak hal-hal yang diucapkan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya di hari terakhir kebersamaan mereka itu. Di ayat 44, Tuhan Yesus mengingatkan murid-murid tentang apa yang sebenarnya telah Ia katakan sebelumnya kepada mereka bahwa, harus digenapi semua yang tertulis tentang diriNya dalam kitab Taurat, kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. Hal mendasar tentang diriNya yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut kemudian disebutkanNya pada ayat 46-49 yaitu:
1. Mesias harus menderita dan bangkit pada hari ketiga;
2. Dalam namaNya, pertobatan dan pengampunan harus diketahui semua oraang/bangsa;
3. Murid-murid adalah saksi (mengetahui nubuat dalam kitab suci yang telah digenapiNya);
4. Murid-murid akan menerima janji Bapa (perlengkapan kekuasaan dari tempat tinggi) dan untuk itu mereka harus menunggu sampai tiba waktunya perlengkapan itu diberikan (bdk. Kis. 1:8).
Saudara-saudara Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus, keempat hal di atas sangat erat kaitannya dengan “Misi Kerajaan Allah” bagi dunia ini sejak mulanya. Melalui percakapan dengan murid-muridNya (perikop kita hari ini), sebenarnya Yesus sedang melakukan proses terakhir dari pemindahan Misi Kerajaan Allah itu dari diriNya kepada murid-murid, dimana proses pemindahan itu sebenarnya telah berlangsung dalam pengajaranNya dan dalam keseharianNya bersama para murid. Misi Kerajaan Allah sejak mulanya itu, secara singkat, adalah sebagai berikut:
Sejak manusia pertama (Adam) diciptakan menurut gambar dan rupa Allah dan kepadanya diberi tugas dan tanggungjawab untuk mengusahakan dan memelihara alam semesta ini (Kejadian 1:26-31; 2:15) maka sejak itu misi Kerajaan Allah dimulai. Mengusahakan dan memelihara alam semesta, menjadi tugas pokok dan utama bagi manusia sejak semula. Kepada manusia itu diberikan segala kemampuan dan kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh ciptaan Allah lainnya sebab manusia akan berperan sebagai perpanjangan tangan Allah. Kelebihan yang paling menonjol adalah kemampuan berfikir dan kehendak bebas. Kemapuan lainnya seperti, melakukan yang benar, bersikap bijaksana, sikap adil, pandai besi, rancang bangun (arsitek), kemampuan seni (menyanyi, lukis, patung, gambar) dan lain sebagainya, diberikan pula sebab Allah tahu bahwa semua itu dibutuhkan. Dengan kemampuan- kemampuan itu, maka Misi Kerajaan Allah itu pun pasti terwujud, yakni terciptanya kedamaian dan kesejahteraan bagi semua ciptaan.
Kedamaian dan kesejahteraan atau lebih dikenal dengan istilah Damai Sejahteraan (Syalom) inilah sebenarnya tujuan akhir dari Misi Kerajaan Allah yang diemban manusia sejak mulanya di bumi ini. Tapi apa yang terjadi? Adam gagal total mengemban misi itu karena kehendak bebas yang ada padanya itu digunakan salah (Adam pun jatuh ke dalam dosa). Misi kemudian dilanjutkan Allah melalui pemanggilan Abraham dan keturunannya: Ishak dan Yakub. Cucu Abraham (Yakub) memperanakkan dua belas (12) orang anak yang pada akhirnya terbentuklah suatu bangsa yang besar yang dikenal dengan nama bangsa Israel (dari nama Yakub berubah menjadi Israel dalam Kejadian 32:28). Di masa- masa kejayaan Bangsa ini cukup menyenangkan dan membanggakan Allah Israel sebab mulai memperlihatkan tanda-tanda terwujudnya Kerajaan Allah itu yakni Syalom bagi alam semesta ciptaaNya. Tapi ternyata bangsa yang telah mendapat julukan bangsa pilihan Allah ini gagal pula dalam mewujudkan misi itu. Walaupun secara bergantian para nabi diutus untuk mengingatkan mereka, baik yang tampil dengan kata-kata lembut seperti yang disampaikan oleh Daud yang dengan tegas menyebut Allah sendirilah Raja alam semesta yang mesti dipatuhi (Mazmur 93) maupun dengan kata-kata keras seperti yang berulangkali disampaikan oleh tiga orang nabi yang begitu keras: Yehezkiel, Amos dan Mikha (dalam kitab ketiga nabi tersebut) tapi bangsa ini tetap saja keras kepala bahkan tidak peduli. Akhirnya bangsa ini justru terbelah menjadi dua kerajaan: Utara dan selatan. Kerajaan Utara (Samaria) karena ibu kotanya bernama Samaria yakni sepuluh (10) suku Israel dan kerajaan Selatan dengan nama Yahudi (dari nama Yehuda) yakni suku Yehuda dan Benyamin. Karena Bangsa Israel pun gagal mengemban misi Kerajaan Allah bagi dunia ini, maka Allah pun menghukum mereka (sama seperti Adam yang juga dihukum).
Hukuman bagi bangsa Israel begitu banyak termasuk pembuang-pembuangan selama tiga tahap itu bahkan akhirnya kerajaan ini punah. Allah kemudian berinisyatif untuk melanjutkannya misiNya itu dengan mengutus firmanNya sebagai AnakNya hadir di dunia menjadi manusia. Misi Kerajaan Allah untuk menghadirkan Damai sejahtera itu kemudian dikerjakan oleh Yesus sendiri yakni firman Allah yang menjadi manusia (yoh.
1:1, 14). Selama lebih kurang tiga puluh tiga (33) tahun di bumi, Yesus telah mngajarkan dan memberi banyak contoh dalam menghadirkan damai sejahtera termasuk didalamnya tentang pengampunan karena kegagalan- kegagalan manusia sejak Adam sampai zaman Yesus (poin 1-3 di atas). Di hari terakhir bersama murid- muridNya, Ia mengingatkan kepada mereka bahwa mereka telah diberitahu sebelumnya tentang tugasNya hadir di bumi ini dan bahwa sekarang menjelang kepergianNya Ia mewariskan, Ia memandatkan, Ia memberikan tugas dan tanggungjawab tersebut untuk diteruskan, Dia mengutus murid-muridNya (bdk. Matius 28:18-20).
Saudara-saudara Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus, murid-murid akhirnya memahami bahwa Sang Guru telah mengerjakan dan menyelesaikan tugasNya dengan sempurna baru meninggalkan mereka. Bahwa kehadiranNya di bumi ini Ia telah memperbaiki, meluruskan, menggenapi dan menyelesaikan semua yang salah sejak Adam. Bahwa di salib itulah semuanya dituntaskan Yesus. Misi Kerajaan Allah yang kandas itu telah dipulihkan. Murid-murid mengetahui semua itu. Bahkan mereka paham dengan sangat baik. Itu sebabnya Yesus menyebut mereka: “Kamu adalah saksi dari semuanya ini” (ayat 48 perikop kita). Ketika kekuatan dari tempat tinggi mendatangi para murid (poin 4 di atas), dengan sigap mereka langsung “beraksi”. Dan karena aksi para murid itulah maka kitapun menerima berita Injil, kita pun mengetahui bahwa bangsa Israel gagal membawa misi Allah, dari aksi para murid juga kita jadi paham bahwa Yesus telah datang memperbaiki semuanya, memberi pengampunan dan membuka jalan lebar bagi semua pengikutNya untuk turut telibat meneruskan misi itu (Misi Kerajaa Allah) di bumi yakni memelihara dan mengusahakan alam semesta ini sehingga berdampak pada terciptanya damai sejahtera. Berbagai kemampuan yang diberikan dan ada dalam diri kita yang tidak dimiliki ciptaan lain sealain manusia, memungkinkan kita dapat berperan sangat baik sebagai “tangan Allah”. Murid-murid diutus agar misi itu terus bertahan dan mereka telah menyelesaikan tugas itu dengan baik.
Pertanyaan akhirnya harus diajukan kepada saudara dan saya (semua pengikut Kristus/gerja) adalah: “Apakah kita mau menjadi utusanNya meneruskan Misi Kerajaan Allah?” Dengan tema: “Gereja Diutus Menjadi Saksi Kristus”, menjadi penuntun kita untuk terus memahami siapakah Yesus Kristus dan apa yang telah dilakukan Nya. Dengan itu maka kita dapat beersaksi tentang diriNya dengan baik. Pemaparan renungan hari ini kiranya menolong kita memahami hal tersebut serta menolong kita semua mengerti tugas dan tanggungjawab kita sebagai orang percaya yang diutus menjadi saksiNya dalam konteks kita masing-masing. Bahwa kita semua diutus menjadi saksiNya sekaligus untuk mempraktekkan isi dari apa yang kita saksikan itu. Kita mengetahui dan menyaksikan bahwa Yesus telah datang ke dunia ini mengajar, memberi ampunan untuk semua yang salah yang dilakukan umat manusia sejak Adam, termasuk kesalahan saudara sekalian dalam hidup ini. Ia menderita, mati mengorbankan diri sebagai bukti kasihNya. Sebab dengan kematianNya menjadi tebusan dosa dunia ini termasuk dosa saudara dan saya, sekaligus kita dituntut untuk juga memperaktekkan pengampunan itu bagi saudara-saudara kita, sesama kita yang mungkin terlanjur berbuat salah kepada kita. Memaafkan mereka yang bersalah dan keliru adalah salah satu wujud dari kesediaan kita menjadi utusanNya sebab Kristus terlebih dulu telah mengampuni kita. Melalui jalan salib pengorbanaNya itu maka sorga terbuka, kerajaanNya (kerajaan Allah) diwujudkan. Menjadi saksi Kristus berarti memberitakan apa yang telah dikerjakan dan diperjuangkan Kristus. Mengerjakan atau mengusahakan alam ini secara bertanggungjawab, itu juga wujud dari mengemban tanggungjawab sebagai saksiNya. Bencana alam adalah wujud dari penghukuman Allah saat manusia merusak alam ini.
Saudara-saudara kekasih Kristus, dalam seluruh aktivitas hidup kita di manapu dan kapan pun selalu terbuka peluang untuk menjadi saksiNya. Ingatlah! begitu banyak kelebihan atau kemampuan yang Tuhan anugerhkan kepada kita yang tidak dimiliki mahluk lain. Mari memanfaatkan kemampuan-kemampuan itu dalam mengemban tugas sebagai saksiNya. Silahkan masing- masing memeriksa potensi apa yang dimiliki dan dapat dikembangkan demi tugas panggilan kita ini. Saya berharap kita semua mau membuka hati menerima panggilanNya diutus menjadi saksiNya. Tepuji namaNya, haleluya. Amin